Ternyata Begitu Banyak Manfaat dan Faidah Dzikir


Courtesy of www.shawuniversitymosque.org
Dalam surat al-Ahzab ayat 41 Allah berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.”
Di sini Allah memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Orang yang banyak berdzikir berarti memiliki hati yang hidup. Dia selalu sadar akan keadaannya sebagai seorang hamba yang fakir dan butuh kepada Allah serta hatinya dipenuhi dengan pengagungan dan pujian terhadap Allah. Perumpaan orang yang berdzikir dan yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.
Namun barangkali kita belum menyadari apa sajakah manfaat dzikir bagi pelakunya? Ibnul Qayyim al-Jauziyyah telah menyebutkan banyak manfaat dan faidah dzikir yang bisa menambah motivasi kepada kita untuk banyak berdzikir. Faidah dzikir banyak sekali, bisa mencapai seratus lebih. Sebagian di antaranya:
Pertama: Mengusir syetan, menundukkan dan mengenyahkannya.
Kedua: Membuat Allah ridha.
Ketiga: Menghilangkan kesedihan dan kemuraman hati.
Keempat: Mendatangkan kegembiraan dan kesenangan di dalam hati.
Kelima: Menguatkan hati dan badan.
Keenam: Membuat hati dan wajah berseri.
Ketujuh: Melapangkan rezki.
Kedelapan: Menimbulkan rasa percaya diri dan kharisma.
Kesembilan: Menumbuhkan rasa cinta yang merupakan ruh Islam, menjadi inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan. Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebabnya. Maka Dia menjadikan sebab cinta adalah dzikir secara terus-menerus. Barangsiapa ingin mendapatkan cinta Allah, maka hendaklah dia senantiasa berdzikir dan mengingat Allah. Belajar dan mengingat merupakan pintu ilmu. Dzikir merupakan pintu cinta, dan jalan untuk itu sangat besar dan lurus.
Kesepuluh: Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi, sehingga mendorongnya untuk selalu berbuat bajik. Dia beribadah kepada Allah seakan-akan Allah melihat dirinya secara langsung. Tapi orang yang lalai untuk berdzikir tidak akan sampai kepada kebajikan, sebagaimana orang yang hanya duduk saja tidak akan sampai ke tempat tujuan.
Kesebelas: Membuahkan ketundukan, yaitu berupa diri kepasrahan kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada Allah dengan cara menyebut asma-Nya, maka dalam keadaan seperti apa pun dia akan kembali kepada Allah dengan hatinya, sehingga Allah menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala mendapat bencana dan musibah.
Kedua belas: Membuahkan kedekatan kepada Allah. Seberapa jauh dia melakukan dzikir kepada Allah, maka sejauh itu pula kedekatannya dengan Allah, dan seberapa jauh dia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu jarak yang memisahkannya dengan Allah.
Ketiga belas: Membukakan pintu yang lebar dan berbagai pintu ma’rifat. Semakin banyak dia berdzikir, maka semakin lebar pintu yang terpampang di hadapannya.
Keempat belas: Membuahkan keengganan kepada Allah dan pengagungan-Nya, karena dia merasakan kebersamaan dengan Allah. Berbeda dengan orang yang lalai. Tabir keengganan ini sangat tipis di dalam hatinya.
Kelima belas: Membuatnya selalu diingat Allah, sebagaimana firman-Nya, “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian. “(Al-Baqarah: 152).
Keenam belas: Membangkitkan kehidupan di dalam hati. Kami pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan. Apa yang terjadi dengan ikan andaikan dia dipisahkan dari air?”
Ketujuh belas: Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak mendapatkan santapannya. Suatu kali kami menemui Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sedang shalat subuh. Seusai shalat dia berdzikir kepada Allah hingga hampir tengah hari. Pada saat itu dia menengok ke arahku seraya berkata, “Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapatkan santapan ini, tentu kekuatanku akan hilang.”
Kedelapan belas: Membersihkan hati dari karatnya, seperti yang sudah kami uraikan di bagian atas. Segala sesuatu ada karatnya. Karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedang untuk membersihkan karat ini ialah dengan taubat dan istighfar.
Kesembilan belas: Menyingkirkan kesalahan dan mengenyahkannya. Dzikir merupakan kebaikan yang paling agung. Sementara kebaikan dapat menyingkirkan keburukan.
Kedua puluh: Menyelamatkannya dari adzab Allah, sebagaimana yang dikatakan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dan dia memarfu’kannya, “Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah selain dari dzikir kepada Allah.
Kedua puluh satu: Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan pada hari kiamat. Karena majelis yang di dalamnya tidak ada dzikir kepada Allah, maka akan menjadi penyesalan bagi pelakunya pada hari kiamat.
Kedua puluh dua: Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab gerakan lidah merupakan gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan paling mudah. Andaikan ada anggota tubuh lain yang harus bergerak seperti gerakan lidah sehari semalam, tentu ia akan kesulitan melaksanakannya dan bahkan tidak mungkin.
Kedua puluh tiga: Dzikir merupakan tanaman surga, sebagaimana yang diriwayatkan at-Tirmidzy dari hadits Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya, “Pada malam aku diisra’kan, aku bertemu Ibrahim al-Khalil ‘alaihi salam seraya berkata kepadaku, “Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada umatmu, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segar airnya, dan bahwa surga itu merupakan kebun, sedangkan tanamannya adalah subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.” Menurut at-Tirmidzy ini hadits hasan gharib. Dia juga meriwayatkan dari Abu Zubair dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda, “ Barangsiapa mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’, maka ditanamkan baginya pohon kurma di surga.” Menurut at-Tirmidzy ini hadits hasan shahih.
Kedua puluh empat: Terus menerus dzikir kepada Allah membuatnya tidak melalaikan Allah. Padahal lalai mengingat Allah merupakan sebab penderitaan hamba di dunia dan di akhirat. Siapa yang melalaikan Allah juga akan lalai terhadap dirinya sendiri dan kemaslahatannya.
***
Rujukan: Kalimat Thayyibah Kumpulan Dzikir dan Do’a, Ibnul Qayyim al-Jauziyah penerbit Pustaka al-Kautsar 1999.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...